Kejar Swasembada Pangan, Kementan Genjot LTT Lewat PM-AAS dan Pompanisasi di Jateng
Admin Utama
Sragen – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat implementasi Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebagai langkah strategis menggenjot Luas Tambah Tanam (LTT) dan menjaga peningkatan produksi pangan nasional. Melalui penguatan pompanisasi, penyediaan infrastruktur irigasi, dan modernisasi budidaya, Kementan menargetkan lahan tetap produktif sepanjang tahun untuk mempercepat terwujudnya swasembada pangan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menegaskan peningkatan LTT menjadi strategi utama dalam menjaga momentum peningkatan produksi pangan nasional.
"Percepatan tanam menjadi kunci menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Seluruh lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah harus segera ditanami agar memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi dan memperkuat swasembada pangan," tegas Mentan Amran.
Komitmen tersebut ditunjukkan Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, saat menghadiri kegiatan percepatan implementasi PM-AAS di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Jumat (24/7).
Kegiatan yang diikuti Kelompok Tani Sukotani 1, Sukotani 6, Sri Rejeki 1, dan Sri Rejeki 2 itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas lahan, mempercepat Luas Tambah Tanam, sekaligus mendorong kenaikan indeks pertanaman.
Pada kesempatan tersebut, Kementan menyerahkan bantuan 15 unit pompa air sebagai tahap awal dari total usulan 58 unit yang diajukan Pemerintah Kabupaten Sragen.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menghadapi musim kemarau dan potensi El Niño. Dengan ketersediaan air yang terjaga, petani diharapkan tetap dapat menanam sehingga produksi pangan tidak terganggu.
Andi menambahkan, Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah prioritas pengembangan PM-AAS dengan cakupan sekitar 138 ribu hektare. Sebagai lumbung pangan terbesar kedua nasional setelah Jawa Timur, peran provinsi tersebut sangat strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, Kabupaten Sragen memiliki potensi sumber air yang besar, mulai dari Bendung Colo hingga sekitar 26 ribu titik sumur dalam. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui program pompanisasi agar petani tetap dapat menanam meski memasuki musim kemarau.
"Jawa Tengah ini harus kita jaga. Dengan bantuan pompa air, sumber-sumber air tersebut dapat dialirkan ke lahan sawah masyarakat sehingga petani tetap bisa menanam dan meningkatkan indeks pertanaman," ujarnya.
Bupati Sragen mengapresiasi dukungan Kementerian Pertanian dalam mendorong modernisasi pertanian melalui PM-AAS. Menurutnya, penerapan teknologi membuat pekerjaan petani menjadi lebih mudah sekaligus meningkatkan hasil produksi.
"Melalui PM-AAS ini, inovasi-inovasi baru dalam bertani menjadikan pekerjaan petani lebih menyenangkan. Bekerjanya lebih ringan, hasilnya lebih melimpah. Ini merupakan terobosan luar biasa dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.
Ia berharap modernisasi pertanian juga mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian karena kini bertani semakin modern, efisien, dan menjanjikan.
Sebelumnya, Kamis (23/7), Andi Nur Alam Syah juga melakukan percepatan peningkatan produksi padi di Desa Dimoro, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut diisi dengan tanam padi bersama Kelompok Tani Margo Mulyo sebagai bagian dari percepatan Luas Tambah Tanam dan implementasi PM-AAS di salah satu sentra produksi pangan Jawa Tengah.
Pada kesempatan itu, Kementan juga menyerahkan empat unit pompa air berkapasitas enam inci untuk memperkuat mitigasi kekeringan di Kabupaten Grobogan.
Secara nasional, Kementan juga memperkuat program pompanisasi. Jumlah bantuan pompa air ditingkatkan dari sekitar 11 ribu unit menjadi 56 ribu unit guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber air di lahan pertanian.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman, menjaga keberlangsungan musim tanam, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim.
Andi mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai prasarana dan sarana pertanian sebagai fondasi menuju pertanian modern yang lebih produktif dan efisien.
"Infrastruktur prasarana dan sarana pertanian sudah disediakan pemerintah. Mulai dari pupuk bersubsidi yang harga eceran tertingginya turun hingga sekitar 20 persen. Dari sisi air, perhatian Bapak Presiden dan Bapak Menteri Pertanian sangat besar melalui revolusi di bidang irigasi," kata Andi.
Ia menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum mengalokasikan anggaran sekitar Rp12 triliun untuk mendukung penyediaan air. Sementara Kementerian Pertanian menjalankan program pompanisasi melalui bantuan pompa air berbagai kapasitas seperti pompa 3 inch, 4 inch, 6 inch, irigasi perpompaan, pembangunan sumur dalam, serta berbagai dukungan infrastruktur lainnya.
Menurut Andi, kesiapan infrastruktur harus diikuti dengan optimalisasi pemanfaatan lahan melalui penerapan PM-AAS agar mampu menghasilkan lompatan produktivitas.
"Kami memfasilitasi agar pertanian Indonesia semakin modern. Ketika infrastrukturnya sudah siap, lahan yang ada harus kita optimalkan. Melalui intensifikasi dan penerapan PM-AAS, kita percepat peningkatan produktivitas hasil panen," ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan produktivitas hanya dapat dicapai apabila seluruh faktor produksi tersedia secara terpadu.
"Dengan ketersediaan air melalui pompanisasi dan irigasi perpompaan, indeks pertanaman akan meningkat. Ketika air tersedia, alsintan tersedia, dan pupuk juga terpenuhi, insyaallah produktivitas pertanian kita akan terus meningkat," katanya.
Melalui percepatan Luas Tambah Tanam, penerapan PM-AAS, penguatan infrastruktur irigasi, penyediaan alsintan, pupuk bersubsidi, benih unggul, serta program pompanisasi, Kementerian Pertanian optimistis produktivitas pertanian nasional akan terus meningkat. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus mempercepat terwujudnya swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.