Mitigasi Kekeringan dari Hulu, Kementan Turunkan Pompa Air untuk Selamatkan Musim Tanam
Admin Utama
Indramayu – Pemerintah terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan fenomena El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat. Berbagai langkah mitigasi dipercepat agar petani tetap dapat menanam dan produksi pangan nasional tidak terganggu.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah memilih bergerak lebih awal daripada menunggu dampak kekeringan meluas. Karena itu, berbagai program mitigasi terus dijalankan, mulai dari optimalisasi sumber air, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga Gerakan Pompanisasi melalui penyaluran bantuan pompa air ke wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
“Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu pemerintah mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman,” ujar Mentan Amran.
Gerakan Pompanisasi merupakan salah satu strategi adaptasi perubahan iklim yang dijalankan Kementerian Pertanian untuk memastikan sumber air tetap dapat dimanfaatkan ketika curah hujan menurun. Melalui pompa air, lahan yang berpotensi mengalami kekeringan tetap dapat diairi sehingga petani tidak kehilangan kesempatan tanam.
Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui penyerahan bantuan 7 unit pompa air kepada 7 kelompok tani di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, oleh Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alamsyah, Senin (29/6).
Menurut Andi, Kecamatan Sukra saat ini memiliki potensi kekeringan seluas 1.945 hektare. Dengan tambahan pompa air tersebut, potensi tanam pada musim tanam berikutnya dapat ditingkatkan hingga mencapai 3.445 hektare.
“Bantuan pompa air ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah untuk memastikan petani tetap memiliki akses air. Dengan begitu, lahan yang berpotensi terdampak kekeringan tetap dapat ditanami sehingga produktivitas pertanian dan pendapatan petani tetap terjaga,” ujar Andi.
Ia menjelaskan, program pompanisasi telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan luas tanam di Kabupaten Indramayu.
“Semula target tanam Kabupaten Indramayu pada Juni sekitar 25 ribu hektare. Dengan dukungan sekitar 200 unit pompa air yang didistribusikan Kementerian Pertanian, potensi tanam dapat meningkat hingga sekitar 41 ribu hektare. Ini menunjukkan bahwa intervensi pompanisasi mampu menjaga bahkan meningkatkan luas tanam di tengah ancaman kekeringan,” jelasnya.
Andi menambahkan, pompanisasi bukan sekadar bantuan alat dan mesin pertanian, tetapi merupakan bagian dari strategi nasional menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Melalui pemanfaatan sumber-sumber air yang tersedia, pemerintah berupaya memastikan setiap musim tanam tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kementerian Pertanian akan terus memantau perkembangan kondisi iklim di berbagai daerah serta mempercepat langkah-langkah mitigasi sesuai kebutuhan lapangan. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sehingga target swasembada pangan tetap tercapai meskipun menghadapi tantangan iklim yang semakin dinamis.