Jumat, 29 Agustus 2,4:21 pm | Dilihat .

Bedah Buku “Modernisasi Pertanian Indonesia : Solusi atas Problem Utama Pertanian”

Sektor pertanian Indonesia kian mengkhawatirkan, hasil produk terus menurun dan luas lahan makin menyempit akibat lajunya konversi lahan yang terus menerus setiap tahun. Dalam 135 tahun ke depan, luas lahan pertanian Indonesia seluas 8,1 juta hektar akan habis.

Direktur Jenderal  Prasarana  dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Gatot Irianto mengatakan untuk mengatasi hal tersebut diperlukan  terobosan revolusi modernisasi pertanian Indonesia. Sektor pertanian pangan Indonesia makin terpuruk. Luas lahan pertanian kian menyempit. Sementara, laju tahunan konversi lahan sawah 110.000 hektare (ha) per tahun atau dua kali luas dari rerata kemampuan pencetakan sawah baru 50.000 ha pertahun. "Apabila terus berlangsung,maka lahan pertanian Indonesia seluas 8,1 juta akan habis dalam 135 tahun," katar Gatot dalam Bedah Buku dan Diskusi Modernisasi Pertanian Indonesia: Solusi atas Problem Utama Pertanian' di Jakarta, Sabtu (16/8).

Menurutnya, Jawa yang laju konversinya paling tinggi menyumbang antara 50-60% produk pangan nasional. Sehingga paritas impor pangan melonjak empat kali lipat dari US$ 3,34 miliar di 2003 menjadi US$ 14,9 miliar pada 2013.

Selain itu, generasi muda terdidik meninggalkan sektor pertanian karena beranggapan 'kotor, becek, panas dengan upah buruhnya murah'. Alhasil, hanya tenaga tua yang terpaksa bekerja di sektor sub sektor pangan.

Dengan kondisi sektor pertanian pangan di Indonesia seperti tersebut, menurut Gatot, jelas kian mengkhawatirkan. Karenanya, dibutuhkan t erobosan revolisioner yang konkrit dan operasional melalui modernisasi pertanian. 

Ketua Komisi IV DPR Romahurmuzy mengatakan pemerintah harus menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas dan perhatian utama. Sebab jika pembenahan yang dilakukan gagal maka Indonesia dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa ini akan menjadi pasar yang empuk bagi produk produk produk impor. "Pantas saja, impor pangan melonjak empat kali lipat dari US$3,34 miliar (2003) menjadi US$14,9 miliar pada 2013," lugasnya

Romahurmuziy menambahkan, dibutuhkan kemauan politik dan gaya kepemimpinan yang kuat yang mampu mendorong petani leluasa mampu meningkatkan hasil produksi tanam sekaligus mengarahkan konsumen tidak berpijak pada produk pangan impor.Hanya dengan cara itu, kata Romahurmuziy ,akan menjadikan Indonesia kembali sebagai negara produsen pangan yang mandiri dan berdaulat 

Sementara itu, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristianto mengatakan, keterpurukan sector pertanian menjadikan petani semakin sulit keluar dari jeratan kemiskinan. Selain harus menghadapi penyempitan lahan dan beralih profesi menjadi petani penggarap.

Menurut Hasto, Indonesia butuh pemerintahan yang kuat dan memiliki keberpihakan lebih besar terhadap sektor pertanian. (http://infopublik.kominfo.go.id)

Buku Modernisasi Pertanian Indonesia dapat dibaca secara on-line di webblog Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA (http://www.gatotirianto.blogspot.com/)

Dokumentasi :

Statistik Pengunjung
13008
Hits Hari Ini 160
Total Hits13008